Saturday, August 31, 2019
Wednesday, August 28, 2019
Thursday, August 22, 2019
Wednesday, August 21, 2019
Roki: Pelukis Cerdas dan Menginspirasi Berkat Support Ortunya
Ini cerita Ferdian
Ondira Asa biasanya dipanggil Roki, Asal Payakumbuh sudah tinggal di Pekanbaru 8
tahun. Pekerjaan sebagai seniman lukis dan mengabdi pada sekolah autis untuk
anak-anak di Pekanbaru. Kini Roki mengabdi di kampus di Kota Padang. Roki menamatkan
ilmu seni lukis di Universitas Negeri Padang, kemudian memberikan ilmu
pengetahuan Lukis kepada seniman lukis di Riau dengan mendirikan Forum Seni
Lukis Riau di Pekanbaru. Roki menamatkan S2 seni pascasarjana Institut Seni
Indonesia Padang Panjang bersama saya tahun 2018 bulan Januari lalu tepatnya
setahun. Anggap saja tulisan ini reunian setahun ya bang…
Saat kami singgah ke rumah orang tuanya di Payakumbuh setahun lalu, kami menanyakan peran orang tua Roki sehingga Roki seperti sekarang - seniman sukses. Bunda Roki menerangkan bahwa Roki yang memberikan peranan besar dalam keluarga, dan kerja. Sampai saat ini dengan ide Roki membuat usaha bisnis papan nama di Payakumbuh dan order papan nama sudah mencapai target kerja. Saya mendengarkan pula pengakuan Roki, orant tuanya mendukung penuh kegiatan melukisnya, tak seperti kebanyakan orang tua yang masih menganggap seni tak “menjanjikan”.
Roki memiliki kemampuan bisnis di bidang seni saat baru
saja menamatkan S1 Seni Rupa di Padang (UNP), merintis dan menjadikan bisnis papan
bunga di kota padang selama 2 tahun di sana.
Akhir Januari 2018, Saya berkesampatan bertamu ke rumah Roki di Panam Pekanbaru, berdiskusi sambil bertemu dengan pemesan karyanya setelah itu saya dibawa keliling di Pekanbaru menceritakan berbagai pengalamannya di Pekanbaru. Katanya, telah berkarir untuk meningkatkan daya seniman lukis dan rasa cinta mengembangkan seni lukis, juga demi kehidupan maka Roki pindah ke pekanbaru 8 tahun yang lalu dari Kota Padang.
Memulai lukis sebagai profesi Roki melukis gambar-gambar
potret kemudian menitipkan karyanya kepada pedagang kaligrafi di kota
Pekanbaru, dan mendirikan stand lukis di depan gapura Universitas Riau.
Perkembangan Bisnis Lukis semakin menjanjikan, permintaan sudah semakin
banyak, dan Roki mendirikan galeri di jalan durian Pekanbaru.
Kualitas adalah jiwa kritis bagi Roki, bekerja sebagai seniman menjadikan
kepuasan bagi dirinya sehingga rasa puas itu harus diukur dengan kualitas.
Untuk mendapatkan kualitas karya seni menurut Roki, jika dari usia anak-anak/remaja
sudah nampak berbakat, sebaiknya sekolah di jurusan seni. Seperti Roki sendiri
S1 dibidang seni lukis, mengambil magister seni karena banyak teknik dan
wawasan seni diajarkan sehingga dapat dikembangkan. Buahnya Roki menjadi dosen
PNS di UNP Padang.
Roki, pada bulan Desember 2016 lalu, demi meningkatkan
ilmu bidang lukis, studi banding ke Yogjakarta menemui seniman terkenal di
Indonesia yang mendunia, namanya Jumaldi Alfi seorang seniman 20 terlaris di
Dunia dalam 500 pelukis terlaris di Dunia, tanda berhasilnya dia dapat membeli
tanah seukuran satu desa di Yogyakarta, dan mendirikan studio seni sekitar 2
hektar.
Roki melanjutkan kisah Jumaldi Alfi.Bahkan ada yang tak
mau menjual tanah kepadanya. Dari hasil pertemuan Roki dengan seniman lukis
terkenal di Yogyakarta ini, Jumaldi Alfi memberikan inspirasi untuk Roki.
Seniman lukis itu royal, berbaik hati kepada masyarakat, jika tanah yang dibeli
oleh seniman tersebut maka orang tak perlu lagi menyewa rumah atas tanah yang
telah dibelinya. Masyarakat merasakan manfaat kehadiran Jumaldi Alfi sebagai
pendiri Kelompok Seni Rupa Jendela Yogyakarta.
Jumadil Alfi yang lahir di Tanah Datar Sumatera
Barat, karya seni dari Jumadi Alfi telah mencapai ratusan juta untuk satu karya
dan karyanya ditunggu. Kini tiap enam bulan jumadi alfi wajib membuat
minimal 2 karya sebagai aturan main dalam komunitas seni lukis dunia,
sehingga wajar terbeli tanah yang banyak di Yogjakarta. Pesan Jumadi Alfi
kepada Roki adalah untuk menjadi besar tidak mudah untuk menjadi besar harus
melalui rintangan berat dan tantangan, sabar dan bermanfaat bagi orang
banyak.
Jiwa petualang Roki mencari guru lukis ini telah pula
diwariskan orang tuanya berpindah-pindah tempat mencari nafkah demi merubah
nasib, kecuali itu tentu belajar dari senior-senior pedagang karena usaha
dagang mereka mempertahankan hidup.
Roki melanjutkan kisah singkatnya dalam pertemuan dengan
pelukis internasional itu. Menjadi seniman tidak perlu begadang. Seniman
tidak perlu bersentuhan dengan narkoba dengan hal-hal yang negatif.
Seorang seniman harus memiliki identitas. Misalkan saat ini karya Roki
memiliki identitas pengambilan gambar seolah-olah dari atas (drone) kemudian
menggunakan tema tikus, saat itu pula kemudian Roki berkarya, semua orang tahu
itu identitas Roki.
Setelah menemui pelukis terkenal 20 terbaik dunia, Roki
berkeinginan menemui pelukis terbaik ke-5 di dunia saat ini yakni Rudi
Mantofani karyanya diharga 1 miliyar yang tinggal Yogyakarta juga, namun nasib
Roki belum beruntung untuk menemuinya dan berdiskusi dengannya karena menemui
Rudi Mantofani ternyata harus audiensi dulu sama seperti menemui para pejabat
negara.
Setidaknya selama sepuluh hari di Yogyakarta menimba ilmu
dengan lingkungan seniman dan dengan senimannya langsung sedikit puas untuk
menginspirasi dalam karya Roki berikutnya.
Roki yang saat ini harga lukisannya sudah mencapai 40
juta rupiah untuk satu lukisan. Telah mampu membeli rumah di Kota Padang dan
properti lainnya. Apa yang ditanamkan oleh orang tuanya dan dukungan penuh dari
orang tuanya kini berbuah manis.
#LiterasiKeluarga
#SahabatKeluarga
Tuesday, August 20, 2019
Monday, August 19, 2019
Belajar Itu Berat: Orang Tua dan Peranannya Sepulang Kerja
Anak Saya gembira menerima uang saku atau uang
pembinaan agar lebih rajin lagi belajar. Setidaknya itu yang dapat diucapkan
oleh panitia tingkat Kota Dumai saat memberikan hadiah, piagam dan piala, 3
bulan lalu. Kegiatan yang diadakan oleh satu forum pendidikan membuat anak saya
lebih semangat. Itulah harapan saya sebagai orang tua. Tentang kemenangan anak
saya yang paling tua ini, seharusnya saya berterimakasih kepada bundanya,
karena kegigihan memberikan semangat kepada anak sulung, si abang yang berumur 10 tahun.
Peran bunda untuk si sulung, dimulai dari rencana
memasukkan si sulung untuk belajar tambahan bidang agama. Setiap hari sabtu,
minggu, selasa dan kamis sejak tahun 2017, hingga kini tak henti pembelajaran
bidang agama dinikmati manfaatnya agar si sulung mendapatkan ilmu agama sebagai
pemegang dan kendali bagi akhlaknya.
Sebagai orang tua, tentu rasa bosan pasti ada empat
hari tiap minggu mengantarkan si sulung belajar. Saya dalam keadaan lelah
karena baru pulang kerja sudah pergi
mengantar si sulung. Jarak tempat kerja ke rumah sekira 12 KM, kemudian
mengantarkan si sulung sekira 4 KM. berat memang, namun sebagai ayah berperan dalam mendukung
keinganan bundanya si sulung. Cita-cita bundanya salah satu anaknya, khususnya
si sulung untuk bisa menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dibidang agama. Buah
dari cita-citanya si sulung juara 1 tingkat Kota Dumai dalam satu perlombaan
bidang agama. Hebatnya si sulung memberikan semua uang pembinaan kepada orang
tuanya.
Sebagai ayah kepada si sulung, kecuali sebagai
tukang antar jemput si sulung, saya
mengecek ulang pelajarannya tiap hari. Bundanya memberikan semangat dan
memenuhi permintaan makanannya atau sambal apa yang diinginkan si sulung. Orang tua berperan dalam kegiatan si sulung. Hingga
akhirnya si sulung diikutkan dalam kegiatan lomba tingkat propinsi mewakili
Kota Dumai, meskipun belum juara
ditingkat Propinsi, namun semangat belajar,
terus dikobarkan karena juara bukan pilihan, yang menjadi pilihan adalah
mendampingi anak dalam keadaan sulit dan senang. Sulit menerima kekalahan
senang karena si sulung juara satu di tingkat kota.
#LirerasiKeluarga
#SahabatKeluarga
Saturday, August 17, 2019
Orang Tua: Antara Melek Literasi dan Mendidik Sikap Anak
Ini kisah tentang guru dan kelasnya berujung perdebatan antara orang tua dan guru. Saya mendapatkan informasi yang sangat berguna dan ini terus berulang namun masih malu-malu dan agak susah diterapkan dengan kekompakan yang merata. apa itu? sabar ya... cerita ini alurnya bolak balik, bebas penulis lah, he he he.
Saya mendapatkan kesempatan ke Jakarta untuk mengikuti Bimbingan Teknik Penguatan Ekskul. kebetulan saya bidang seni budaya. Pada Waktu itu, 24-28 Juni 2019, di sebuah Hotel yang lantai berjumlah 25 lantai ke atas, disampaikan oleh panitia dan pemateri/nara sumber berbagai informasi. Kegiatan yang dibuat oleh KEMDIKBUD ini sesuatu yang asyik buat saya karena KEMDIKBUD telah mulai melirik bahwa guru dari daerah perlu diundang ke Jakarta mendapatkan pengalaman yang baru.
Ibuk Ninik dari KEMDIKBUD memberikan semangat bahwa setelah BIMTEK ini guru yang aktif akan di viralkan, ah.. jadi semangat nich.. semantara pemateri lain dari ahli psikologi membahas tentang "belajar dengan otak". yang paling diingat adalah otak buaya. Kenapa otak buaya, karena setiap manusia berpikir selalu memperhankan diri dan memakannya. Apa yang disampaikan pointnya adalah setiap orang tua khususnya guru harus paham tentang otak anak-anak, otak tak lagi kiri dan kanan, itulah temuan baru. tentang otak saya tak membahasnya di sini.
sementara pemateri lain Profesor, yang sudah keliling Indonesia melihat dari dekat anak-anak Indonesia dalam hal pendidikan mengatakan anak-anak sekaran wajib melek literasi yang hidup di zaman abad 21, industri 4.0 menggunakan teknologi dalam literasi. literasi bukan sekedar membaca namun harus bisa menganalisis dan membuat. medianya apa? jawabnya dianataranya smartphone. dari smartphone diharapkan anak-anak SMP pergaulannya sudah antar propinsi berbagi karya dari kemampuan literasinya. Ada karya dibagikan antar teman se-Indonesia. Kalau anak-anak SMA, diharapkan pergaulannya sudah Internasional. Berbagi karya dari kemampuan literasi sudah antar negara, lewat apa? lewat smartphone. Kesan yang saya peroleh dari Profesor, terasa bahwa smartphone itu bermanfaat, tinggal sebagai orang tua, guru dan orang dewasa harus mampu memberikan contoh bentuk literasi yang baik bagi anak-anak. Pointnya adalah anak-anak harus menggunakan media digital, smartphone, laptop dan lain-lain di sekolah dan tempat lainnya untuk menunjang kemampuan literasi anak-anak.
Nah... berdasarkan penyampaian pemateri bergelar profesor itu, sepulang dari Jakarta, saya aplikasikan di sekolah saya (upps. nama sekolah dan alamat dirahasiakan ya...). sudah dua minggu ini saya katakan kepada peserta didik untuk membawa smartphone pada saat belajar seni budaya, gunanya apa? sesuai anjuran prosesor tadi, smartphone bermanfaat di bidang seni budaya, banyak karya literasi, saya sederhanakan ya... banyak karya seni rupa di dunia, yang terbaru yang tentu saja buku yang dipakai di sekolah tertinggal selangkah. sekali lagi banyak karya seni lukis, terbaru di Instagram, di Youtube, blog, media massa online yang bisa diakses di smartphone yang bisa dijadikan kajian atau dianalisa sebagai bentuk literasi, yang kemudian dijadikan karya baru kreatif. Bahkan tentu kita tahu bahwa dengan smartphone bisa membuat karya literasi.
Masalahnya apa? ketika smartphone anak-anak dikelola dengan baik, dan ada anak-anak yang tak mau, ini masalah sikap, dan masalah akhlak. saat saya kelola smartphone anak-anak, ada tiga anak-anak tak mau mengumpulkan smartphone, mereka main game mobile legend, duduk bersila di lantai kelas. ini lah masalahnya. saya ambil, malah marah, tak mau diatur, padalah sudah tiga kali di minta agar smartphonenya di letakkan di satu meja yang telah ditentukan. Semua anak-anak mau mengumpulkan kecuali tiga orang siswa.
Smartphone tiga anak laki-laki yang sebenarnya kasus kenakalannya telah dimaafkan sekolah namun berulang. slalu berulang, tak tak ada perubahan, padahal sejak kelas 7 dimaafkan namun kelakuan kenakalan remaja si anak terus berulang. Mungkin juga faktor sekolah kami tak tegas, jadi anak-anak seperti ini semakin kuat, tak mau mendengarkan kata-kata guru lagi. hingga kelas 9. aduh.. 'ajab'! guru-guru hanya bisa melihat mereka karena tak ada efek jera untuk mereka. Selalu dipanggil orang tuanya, malah, orang tua mereka menyalahkan guru, yang katanya tak bisa mengajar anak-anaknya di sekolah. Singkat cerita smartphone tiga anak-anak bandel itu, saya tahan, rencananya dua minggu, biar tau resiko kalau tak mau mendengarkan kata-kata guru. Agar kedepan menghargai sesama, agar tidak meremehkan orang lain, dan mau diperlakukan sama di kelas.
Tiga anak itu memaksa saya agar smartphonenya dikembalikan hari itu juga. maaf hari tempat nama tak saya sebutkan. yang jelas masih hangat. saya pulang dihalang-halangi, akhirnya berhasil melewati tangga, sampai di sepeda motor, masih dihalangi. waduh! ini anak sudah mulai kriminal. terpaksa dengan suara keras, saya bilang AWAS!!. akhirnya baru mereka menjauh dari sepeda motor.
besoknya orang tua mereka mendatangi saya, meminta smartphonenya dikembalikan. dari kejadian bersama orang tua mereka, saya berpendapat ada tiga tipe orang tua dari tiga anak-anak yang bandel itu. 1) tipe ragu literasi. mau mendengarkan kata saya sebagai guru dan mengikuti cara saya memberikan pelajaran pada anaknya, namun akhirnya terpengaruh oleh orang tua bertipe tak peduli literasi. 2) tipe tak peduli literasi. orang tua ini menyalahkan saya karena membolehkan anaknya membawa smartphone, dan smartphone yang ditahan harus dikembalikan karena ada keluarganya yang meninggal. penting smartphonenya dipegang anaknya. setelah di cek ternyata orang tua ini pembohong. 3) orang tua melek Literasi. nah ini dia orang tua yang mau bekerjasama dan saya sebut mau membantu guru dalam bertindak dan menerapkan penddidikan etika, moral, atau akhlak anak-anak. orang tua tipe ketiga ini membuat saya senang. terasa diri ini dihargai dan dianggap sebagai guru bagi anak-anak.
Harapan dari kejadian ini adalah orang tua harus mau bekerja sama dengan guru, agar misi dan visi untuk anak kedepan terwujud, jangan nampakkan kekuatan orang tua berlindung dengan banyak alasan hingga dipandang kuat dari pada guru. jadilah orang tua pembela pendidikan, pendidikan bermula dari orang tua, jika orang tua terlibat dalam kesalahan yang dipupuk, maka anak-anak jadi korban rusaknya mental anak itu sendiri yang bersumber dari memupuk kesalahan di depan mata guru. Dari satu keluarga yang rusak, memancing tipe orang tua yang peragu hingga akhirnya banyak orang tua tertular penyakit mental berani karena salah. Aksi frontal yang dipertontonkan di depan guru.
Jadilah orang tua pembela pendidikan ya...
#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga
#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga
Subscribe to:
Posts (Atom)