Wednesday, August 28, 2019

Belajar Seni Lukis Kepada Seniman SMP

Wednesday, August 21, 2019

Roki: Pelukis Cerdas dan Menginspirasi Berkat Support Ortunya


Ini cerita Ferdian Ondira Asa biasanya dipanggil Roki, Asal Payakumbuh sudah tinggal di Pekanbaru 8 tahun. Pekerjaan sebagai seniman lukis dan mengabdi pada sekolah autis untuk anak-anak di Pekanbaru.  Kini Roki mengabdi di kampus di Kota Padang. Roki menamatkan ilmu seni lukis di Universitas Negeri Padang, kemudian memberikan ilmu pengetahuan Lukis kepada seniman lukis di Riau dengan mendirikan Forum Seni Lukis Riau di Pekanbaru. Roki menamatkan S2 seni pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang bersama saya tahun 2018 bulan Januari lalu tepatnya setahun. Anggap saja tulisan ini reunian setahun ya bang…



Saat kami singgah ke rumah orang tuanya di Payakumbuh setahun lalu, kami menanyakan peran orang tua Roki sehingga Roki seperti sekarang - seniman sukses. Bunda Roki menerangkan bahwa Roki yang memberikan peranan besar dalam keluarga, dan kerja. Sampai saat ini dengan ide Roki membuat usaha bisnis papan nama di Payakumbuh dan order papan nama sudah mencapai target kerja. Saya mendengarkan pula pengakuan Roki, orant tuanya mendukung penuh kegiatan melukisnya, tak seperti kebanyakan orang tua yang masih menganggap seni tak “menjanjikan”.

Roki memiliki kemampuan bisnis di bidang seni saat baru saja menamatkan S1 Seni Rupa di Padang (UNP), merintis dan menjadikan bisnis papan bunga di kota padang selama 2 tahun di sana.

Akhir Januari 2018, Saya berkesampatan bertamu ke rumah Roki di Panam Pekanbaru, berdiskusi sambil bertemu dengan pemesan karyanya setelah itu saya dibawa keliling di Pekanbaru menceritakan berbagai pengalamannya di Pekanbaru. Katanya, telah berkarir untuk meningkatkan daya seniman lukis dan rasa cinta mengembangkan seni lukis, juga demi kehidupan maka Roki pindah ke pekanbaru 8 tahun yang lalu dari Kota Padang. 

Memulai lukis sebagai profesi Roki melukis gambar-gambar potret kemudian menitipkan karyanya kepada pedagang kaligrafi di kota Pekanbaru, dan mendirikan stand lukis di depan gapura Universitas Riau. Perkembangan Bisnis Lukis semakin menjanjikan,  permintaan sudah semakin banyak, dan  Roki mendirikan galeri di jalan durian Pekanbaru.

Kualitas adalah jiwa kritis bagi Roki,  bekerja sebagai seniman  menjadikan kepuasan bagi dirinya sehingga rasa puas itu harus diukur dengan kualitas. Untuk mendapatkan kualitas karya seni menurut Roki, jika dari usia anak-anak/remaja sudah nampak berbakat, sebaiknya sekolah di jurusan seni. Seperti Roki sendiri S1 dibidang seni lukis, mengambil magister seni karena banyak teknik dan wawasan seni diajarkan sehingga dapat dikembangkan. Buahnya Roki menjadi dosen PNS di UNP Padang.

Roki, pada bulan Desember 2016 lalu, demi meningkatkan ilmu bidang lukis, studi banding ke Yogjakarta menemui seniman terkenal di Indonesia yang mendunia, namanya Jumaldi Alfi seorang seniman 20 terlaris di Dunia dalam 500 pelukis terlaris di Dunia, tanda berhasilnya dia dapat membeli tanah seukuran satu desa di Yogyakarta, dan mendirikan studio seni sekitar 2 hektar.  

Roki melanjutkan kisah Jumaldi Alfi.Bahkan ada yang tak mau menjual tanah kepadanya. Dari hasil pertemuan Roki dengan seniman lukis terkenal  di Yogyakarta ini, Jumaldi Alfi memberikan inspirasi untuk Roki. Seniman lukis itu royal, berbaik hati kepada masyarakat, jika tanah yang dibeli oleh seniman tersebut maka orang tak perlu lagi menyewa rumah atas tanah yang telah dibelinya. Masyarakat merasakan manfaat kehadiran Jumaldi Alfi sebagai pendiri Kelompok Seni Rupa Jendela Yogyakarta. 
Jumadil Alfi yang lahir di  Tanah Datar Sumatera Barat, karya seni dari Jumadi Alfi telah mencapai ratusan juta untuk satu karya dan karyanya ditunggu. Kini  tiap enam bulan jumadi alfi wajib membuat minimal 2 karya sebagai aturan main dalam komunitas seni lukis dunia,  sehingga wajar terbeli tanah yang banyak di Yogjakarta. Pesan Jumadi Alfi kepada Roki adalah untuk menjadi besar tidak mudah untuk menjadi besar harus melalui rintangan berat dan tantangan,  sabar dan bermanfaat bagi orang banyak.

Jiwa petualang Roki mencari guru lukis ini telah pula diwariskan orang tuanya berpindah-pindah tempat mencari nafkah demi merubah nasib, kecuali itu tentu belajar dari senior-senior pedagang karena usaha dagang mereka mempertahankan hidup.

Roki melanjutkan kisah singkatnya dalam pertemuan dengan pelukis internasional itu. Menjadi seniman tidak perlu begadang. Seniman tidak perlu bersentuhan dengan narkoba dengan hal-hal yang negatif. Seorang  seniman harus memiliki identitas. Misalkan saat ini karya Roki memiliki identitas pengambilan gambar seolah-olah dari atas (drone) kemudian menggunakan tema tikus, saat itu pula kemudian Roki berkarya, semua orang tahu itu identitas Roki.

Setelah menemui pelukis terkenal 20 terbaik dunia, Roki berkeinginan menemui pelukis terbaik ke-5 di dunia saat ini yakni Rudi Mantofani karyanya diharga 1 miliyar yang tinggal Yogyakarta juga, namun nasib Roki belum beruntung untuk menemuinya dan berdiskusi dengannya karena menemui Rudi Mantofani ternyata harus audiensi dulu sama seperti menemui para pejabat negara. 

Setidaknya selama sepuluh hari di Yogyakarta menimba ilmu dengan lingkungan seniman dan dengan senimannya langsung sedikit puas untuk menginspirasi  dalam karya Roki berikutnya.

Roki yang saat ini harga lukisannya sudah mencapai 40 juta rupiah untuk satu lukisan. Telah mampu membeli rumah di Kota Padang dan properti lainnya. Apa yang ditanamkan oleh orang tuanya dan dukungan penuh dari orang tuanya kini berbuah manis.

#LiterasiKeluarga
#SahabatKeluarga


Monday, August 19, 2019

Belajar Itu Berat: Orang Tua dan Peranannya Sepulang Kerja




Anak Saya gembira menerima uang saku atau uang pembinaan agar lebih rajin lagi belajar. Setidaknya itu yang dapat diucapkan oleh panitia tingkat Kota Dumai saat memberikan hadiah, piagam dan piala, 3 bulan lalu. Kegiatan yang diadakan oleh satu forum pendidikan membuat anak saya lebih semangat. Itulah harapan saya sebagai orang tua. Tentang kemenangan anak saya yang paling tua ini, seharusnya saya berterimakasih kepada bundanya, karena kegigihan memberikan semangat kepada anak sulung,  si abang yang berumur 10 tahun.

Peran bunda untuk si sulung, dimulai dari rencana memasukkan si sulung untuk belajar tambahan bidang agama. Setiap hari sabtu, minggu, selasa dan kamis sejak tahun 2017, hingga kini tak henti pembelajaran bidang agama dinikmati manfaatnya agar si sulung mendapatkan ilmu agama sebagai pemegang dan kendali bagi akhlaknya.

Sebagai orang tua, tentu rasa bosan pasti ada empat hari tiap minggu mengantarkan si sulung belajar. Saya dalam keadaan lelah karena  baru pulang kerja sudah pergi mengantar si sulung. Jarak tempat kerja ke rumah sekira 12 KM, kemudian mengantarkan si sulung sekira 4 KM. berat memang,  namun sebagai ayah berperan dalam mendukung keinganan bundanya si sulung. Cita-cita bundanya salah satu anaknya, khususnya si sulung untuk bisa menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dibidang agama. Buah dari cita-citanya si sulung juara 1 tingkat Kota Dumai dalam satu perlombaan bidang agama. Hebatnya si sulung memberikan semua uang pembinaan kepada orang tuanya.

Sebagai ayah kepada si sulung, kecuali sebagai tukang antar jemput si sulung,  saya mengecek ulang pelajarannya tiap hari. Bundanya memberikan semangat dan memenuhi permintaan makanannya atau sambal apa yang diinginkan si sulung.  Orang tua berperan dalam kegiatan si sulung. Hingga akhirnya si sulung diikutkan dalam kegiatan lomba tingkat propinsi mewakili Kota Dumai,  meskipun belum juara ditingkat Propinsi, namun semangat belajar,  terus dikobarkan karena juara bukan pilihan, yang menjadi pilihan adalah mendampingi anak dalam keadaan sulit dan senang. Sulit menerima kekalahan senang karena si sulung juara satu di tingkat kota.

#LirerasiKeluarga
#SahabatKeluarga