Kegiatan seni ku barusan mewancarai tokoh cina di kota dumai yang kutanya soal baronsai di kota dumai.
Ceritanya baronsai dimainkan oleh siswa smp dan siswa sma.
Tumbuh dari klenteng.
Di dumai ada 4 grup baronsai.
Baronsai dimainkan dalam kegiatan buka toko baru, imlek, penyambutan tamu bahkan jika berstatus sosial relatif tinggi di gunakan pula dalam pesta perkawinan.
Baronsai ada di kota Dumai sejak tahun 1998, tiap lima tahun pengurusnya diganti.
Seni etnis tionghoa di kota Dumai: ada seni tari, musik kematian,
Pak Aban ingin mengawinkan dan kolaborasi dengan musik pencaksilat melayu. Kenapa? Tanya saja langsung dengan beliau. No kontaknya ada dengan saya.
Lima tahun lalu Pak Aban membuat musik nusantara. Seluruh etnis yang ada di kota Dumai bermain dalam waktu yang sama. Ketika ditanya soal dokumentasinya dia jawab ada sama pak yopi pegawai pelindo. Terakhir dia jumpa dengan yopi bulan agustus saat pesta anak pak zul As.
Terimakasih Pak Aban telah memberikan info baronsai kota Dumai.
Monday, October 24, 2016
Thursday, October 13, 2016
kenangan belum tercatat 2014, touring dumai-toba-berastagi-siantar-50-kisaran-dumai
inilah touring ku dengan Sepeda Motor Karisma
1. Dumai- Baganbatu, jam 8 sampai jam 10.30
2. Baganbatu-Kisarang: 10.30 - 14.00, rehat sebentar
3. Kisaran - Mandoge: 14.00 - 18.00. di pasar mandoge,bandar pasir ambil uang di ATM BRI
3. Mandoge - Prapat : 18.00 - 19.00. makan mie rebus. aku bertanya di mana danau toba. orang kedai bilang itu di depan abang. wah ternyta aku di pinggir danau toba.
gambarnya sabar yaaa..
4. pelabuhan prapat -temok: jam 20.30 - 21.00: naik ferry penyebrangan sekitar 15 ribu kalau tak salah..
5. abis di temok cari penginapan di tepi danau toba. penginapan seharrga 150 ribu
6. samosir - tele: tele itu paling dingin, daerahnya tinggi, sebagai panorama
7. tele - dairi: jalannya di kab dairi paraaah
8. simpang merek - berastagi: ke kanan arah siantar, ke kiri berastagi menuju ke medan
9. berastagi - dolok seribu: berastagi itu banyak buah di jual di jalan. dari berastagi balik kanan ke dolok seribu, ciri khas dolok seribu itu ada tokoh di agungkan liat aja sendiri.
10. dolok seribu - siantar: sampai siantar jam 5 sore. kota terbesar setelah Medan.
11. Siantar - kec 50 - kisaran- dumai: di siantar dapat menginap 150 ribu lagi. di siantar ada tabrakan mobil dan motor, kejadian seperti itu dibiarkan saja oleh warga. pemilik mobil pura-pura tak tau, pelan-pelan meninggalkan tempat kejadian perkara
itulah perjalananku, menghabiskan dana sekitar 800 ribu
1. Dumai- Baganbatu, jam 8 sampai jam 10.30
2. Baganbatu-Kisarang: 10.30 - 14.00, rehat sebentar
3. Kisaran - Mandoge: 14.00 - 18.00. di pasar mandoge,bandar pasir ambil uang di ATM BRI
3. Mandoge - Prapat : 18.00 - 19.00. makan mie rebus. aku bertanya di mana danau toba. orang kedai bilang itu di depan abang. wah ternyta aku di pinggir danau toba.
gambarnya sabar yaaa..
4. pelabuhan prapat -temok: jam 20.30 - 21.00: naik ferry penyebrangan sekitar 15 ribu kalau tak salah..
5. abis di temok cari penginapan di tepi danau toba. penginapan seharrga 150 ribu
6. samosir - tele: tele itu paling dingin, daerahnya tinggi, sebagai panorama
7. tele - dairi: jalannya di kab dairi paraaah
8. simpang merek - berastagi: ke kanan arah siantar, ke kiri berastagi menuju ke medan
9. berastagi - dolok seribu: berastagi itu banyak buah di jual di jalan. dari berastagi balik kanan ke dolok seribu, ciri khas dolok seribu itu ada tokoh di agungkan liat aja sendiri.
10. dolok seribu - siantar: sampai siantar jam 5 sore. kota terbesar setelah Medan.
11. Siantar - kec 50 - kisaran- dumai: di siantar dapat menginap 150 ribu lagi. di siantar ada tabrakan mobil dan motor, kejadian seperti itu dibiarkan saja oleh warga. pemilik mobil pura-pura tak tau, pelan-pelan meninggalkan tempat kejadian perkara
itulah perjalananku, menghabiskan dana sekitar 800 ribu
Monday, October 10, 2016
guru berhasil: guru dulu atau guru sekarang?
tak ada yang ribut, tak ada yang tak ada berjalan-jalan dan perhatikan ke depan. demikian guru di sekolah bukit timah di negeri ini bukan bukit timah di Singapura. semua senyap tak ada kegiatan lain. selain memperhatikan ke depan dan memperhatikan guru di depan. namun yang namanya anak Sekolah Dasar atau sifat anak-anak yang telah ditakdirkan tuhan selalu saja lupa perintah gurunya. mau tak mau murid-murid dapat hukumannya. sebuah penggaris kayu dengan lebar 6 cm dan panjang 60 cm dipukulkan ke telapak tangan siswa yang melanggar aturan dari guru.
itulah kejadian 26 tahun lalu. jika dibandingkan terasa kejam cara mengajar zaman dahulu. anak-anak takut melihat guru, takut berbuat salah bahkan saking takutnya sering belajar untuk menghindarkan dari hukuman yang akan diberikan oleh gurunya. hari ini guru berikan tugas menghafal perkalian, penambahan, pembagian, menghafal propinsi dan ibu kota propinsi, menghafal Undang-undang Dasar 1945, menghafal pancasila. menghafal pidato dan lain-lain mengenai pelajaran di sekolah. sekali lagi begitu menakutkan dan menjadi rajin siswa zaman dahulu dan tidak ada siswa seperti sekarang yang bisa bercanda dan bermain dengan guru.
jarang guru zaman dulu yang terdengar dilaporkan karena memukul siswa, jika siswa melapor kepada orang tuanya bahkan siswa mendapat tambahan hukuman di rumah oleh orang tua. mengapa demikian? karena orang tua malu mendapat laporan seperti itu, itu sebagai tanda orang tua tak pandai mendidik anak di rumah, tak diajarkan sopan santun di rumah. zaman di tahun 1980 sampai dengan 1999 tak ada siswa melapor kepada orang tuanya karena dipukul guru atau karena di hukum guru.
bersambung...
Sunday, October 9, 2016
cara menenangkan anak kecil menangis
ini cerita tentang mendiamkan atau menenangkan anak kecil umur 2,5 tahun yang menangis. cara ini bisa diterapkan pada anak usia sampai dengan 5 tahun. cerita ini saya dapat saat melihat langsung kejadian di dalam mobil travel dari dumai ke sumatera barat.
pembaca, saya bercerita sedikit baru kemudian membahas judul di atas.
saat itu saya dijemput mobil bertipe minibus merek yang tak saya sebutkan. saya naik dan menberikan salam perpisahan kepada dua orang anak saya. memberikan salam perpisahan terasa perpisahan itu lama sekali seperti empat tahun berpisah. sedih, karena masih kuat rasa cinta itu pada anak-anakku tak lah seperti orang-orang yang mau menghabisi nyawa anaknya sendiri atau memukul mental anak. bedebah! kau penghabis nyawa anak-anak, bedebah kau orang pemukul mental anak-anak.
mobil minibus bergerak dari Perumahan masyarakat ke perumahan Bumi Indah Baru. kemudian menjemput penumpang lainnya. lebih dari dua puluh menit baru kemudian berjumpa dengan penumpang yang akan dinaikkan ke minibus. mobil minibus menuju ke kiri dari badan jalan raya perwira dan akhirnya berjumpa dengan penumpang yang dicari.
gambar sumber: sunartoedris.wordpress.com
diamlah!! kalau tak mau diam bunda turunkan kau di sini. kurang ajar kau!! memalukan bunda saja!!. seorang ibu muda berteriak keras di dalam mobil, membuat kami semua di dalam penumpang tak nyaman sambil juga memahami dan memaklumkan. kasihan anak berumur 2, 5 tahun menangis tambah keras. suasana di dalam minibus seperti tak ada orang di mobil itu saking serba salah kami sebagai penumpang yang berjumlah lima orang di dalam mini bus.
anak itu mulai menangis sejak perpisahannya dengan ayahnya saat supir minibus menjemput bunda dan si anak. ayah!! ayah!! anak kecil itu menangis dan berteriak saat meninggalkan ayahnya. si ibu membujuk anaknya dengan berkata bahwa ayah ikut dengan sepeda motor. tak nampak juga si ayah membuat anak menjerit dan menangis di dalam minibus. menangisnya lama sekitar setengah jam saya dan penumpang lain merasakan tangisan si anak itu sampai menjadi beban pikiran. apakah kami sebagai penumpang lain harus terlibat untuk mencarikan solusi anak itu.
diam kau!! begitu keras suara si ibu penumpang itu, dan saya melihat si ibu mencubit si anak malah suara tangisan si anak bertambah keras. aku turunkan kau!! sambil menggendong si anak mengarahkan keluar.
terasa mengerikan adegan si ibu dalam menenangkan si anak yang rasa cinta dan sayangnya berlebih pada ayahnya. heran dan dilema kami sebagai penumpang merasakan keadaan ini. tapi hebatnya si anak berangsur-angsur diam dan tangisan yang tertahan dan terisak-isak perlahan diam.
begitulah salah satu cara mendiamkan anak dengan cara keras dan terpaksa.
cara yang kedua dengan lembut bisa dengan cara memberikan makan, tidak membohongi anak, minta tolong dengan si anak bahwa kita dalam perjalanan malu dengan orang-orang, tolong bantu ibu, ucapan itu yang sering diucapkan kepada anak.
dengan cara kekerasan bisa membuat penyakit mental dan berbahaya untuk masa depan anak. melihat orang tua sebagai momok melihat perempuan momok untuk dilihatnya. bisa jadi suatu saat dia balas dendam untuk memuaskan hatinya banyak kisah ini di kisahkan kembali di dalam film buatan Indonesia dan film Korea.
pembaca, saya bercerita sedikit baru kemudian membahas judul di atas.
saat itu saya dijemput mobil bertipe minibus merek yang tak saya sebutkan. saya naik dan menberikan salam perpisahan kepada dua orang anak saya. memberikan salam perpisahan terasa perpisahan itu lama sekali seperti empat tahun berpisah. sedih, karena masih kuat rasa cinta itu pada anak-anakku tak lah seperti orang-orang yang mau menghabisi nyawa anaknya sendiri atau memukul mental anak. bedebah! kau penghabis nyawa anak-anak, bedebah kau orang pemukul mental anak-anak.
mobil minibus bergerak dari Perumahan masyarakat ke perumahan Bumi Indah Baru. kemudian menjemput penumpang lainnya. lebih dari dua puluh menit baru kemudian berjumpa dengan penumpang yang akan dinaikkan ke minibus. mobil minibus menuju ke kiri dari badan jalan raya perwira dan akhirnya berjumpa dengan penumpang yang dicari.
gambar sumber: sunartoedris.wordpress.com
diamlah!! kalau tak mau diam bunda turunkan kau di sini. kurang ajar kau!! memalukan bunda saja!!. seorang ibu muda berteriak keras di dalam mobil, membuat kami semua di dalam penumpang tak nyaman sambil juga memahami dan memaklumkan. kasihan anak berumur 2, 5 tahun menangis tambah keras. suasana di dalam minibus seperti tak ada orang di mobil itu saking serba salah kami sebagai penumpang yang berjumlah lima orang di dalam mini bus.
anak itu mulai menangis sejak perpisahannya dengan ayahnya saat supir minibus menjemput bunda dan si anak. ayah!! ayah!! anak kecil itu menangis dan berteriak saat meninggalkan ayahnya. si ibu membujuk anaknya dengan berkata bahwa ayah ikut dengan sepeda motor. tak nampak juga si ayah membuat anak menjerit dan menangis di dalam minibus. menangisnya lama sekitar setengah jam saya dan penumpang lain merasakan tangisan si anak itu sampai menjadi beban pikiran. apakah kami sebagai penumpang lain harus terlibat untuk mencarikan solusi anak itu.
diam kau!! begitu keras suara si ibu penumpang itu, dan saya melihat si ibu mencubit si anak malah suara tangisan si anak bertambah keras. aku turunkan kau!! sambil menggendong si anak mengarahkan keluar.
terasa mengerikan adegan si ibu dalam menenangkan si anak yang rasa cinta dan sayangnya berlebih pada ayahnya. heran dan dilema kami sebagai penumpang merasakan keadaan ini. tapi hebatnya si anak berangsur-angsur diam dan tangisan yang tertahan dan terisak-isak perlahan diam.
begitulah salah satu cara mendiamkan anak dengan cara keras dan terpaksa.
cara yang kedua dengan lembut bisa dengan cara memberikan makan, tidak membohongi anak, minta tolong dengan si anak bahwa kita dalam perjalanan malu dengan orang-orang, tolong bantu ibu, ucapan itu yang sering diucapkan kepada anak.
dengan cara kekerasan bisa membuat penyakit mental dan berbahaya untuk masa depan anak. melihat orang tua sebagai momok melihat perempuan momok untuk dilihatnya. bisa jadi suatu saat dia balas dendam untuk memuaskan hatinya banyak kisah ini di kisahkan kembali di dalam film buatan Indonesia dan film Korea.
ternyata rendang minang masih primadona
seorang bule tertarik menjadikan tema dan fenomena rendang minang Indonesia menjadi lagunya. kita tahu rendang sebagai masakan minang yang bahannya daging, santan, cabe, bawang merah, bawang putih dan kunyit, jahe, lengkuas dan serai.
demikian bahan-bahannya yang menjadi masakan minang yang terkenal di dunia. di sini saya mengatakan sebagai fenomena ditransformasikan menjadi lagu dengan pengkajian sosial dan ekonomi. seorang yang bukan orang Indonesia pun tertarik menjadikan lagu dalam fenomena pada masakan.
inilah peristiwa dua hari kemarin yang saya lihat di tv nasional. seakan-akan ranah minang tetap menjadi primadona dari hal budaya dalam sisi kecil pada sebuah masakan yang bernama rendang
demikian bahan-bahannya yang menjadi masakan minang yang terkenal di dunia. di sini saya mengatakan sebagai fenomena ditransformasikan menjadi lagu dengan pengkajian sosial dan ekonomi. seorang yang bukan orang Indonesia pun tertarik menjadikan lagu dalam fenomena pada masakan.
inilah peristiwa dua hari kemarin yang saya lihat di tv nasional. seakan-akan ranah minang tetap menjadi primadona dari hal budaya dalam sisi kecil pada sebuah masakan yang bernama rendang
Saturday, October 8, 2016
Toefl tak menjadi syarat beasiswa
Indonesia saatnya nanti sudah semakin tahu arti bahasanya di mata dunia. Sama dengan jepang dan cina tidak menganggap bahasa inggris atau bahasa amerika sebagai bahasa "pintar".
Setiap anda menginginkan bantuan pendidikan maka anda harus pintar berbahasa inggris dalam bentuk sertifikat toefl sekitar 500 poin dan palimg sedikit 460 poin.
Tak masalah kalau anda belajar di negara yang bahasa induknya Inggris atau negara lain yang mahasiswanya multinegara. Atau bahasa pengantar dalam belajar berbahasa inggris.
Indonesia tidak mewajibkan menggunakan bahasa inggris dalam bahasa pengantar pada setiap pertemuan belajar. Kurikulum pun tidak mengaktifkan bahasa inggris dalam kelas belajar.
Jika begitu, sudah saatnya institusi dan negara memberikan bantuan pendidikan baik s1, s2 dan s3. Kepada warganya, terlebih pendidikan tinggi bertujuan akan melahirkan intelektual yang menjadi tuan di rumah sendiri. Melahirkan teori dari negeri sendiri, bukan sering mengimport teori dari negara lain.
Cara membantu warga negara menjadi cerdas dengan memberikan beasiswa tanpa toefl atau sertifikat bahasa inggris, toh anda belajar di dalam negeri, kan?
Jangan biarkan bibit unggul tak menikmati pendidikan tinggi/pasca sarjana di negara kita sendiri, Indonesia. Bahasa inggris bukan simbol unggul dari warga negara. Jika bahasa inggris dijadikan simbol keunggulan warga negara Indonesia, maka wajibkan berbahasa inggris di kelas sejak sekolah dasar sampai sekolah menengah utamakan speaking, writing dan reading. Jika beljm berhasil maka janban luluskan siswa indonesia untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya.
Bagaimana pak menteri pendidikan? Bagaimana DPRI? Bagaimana penggiat /pemikir pendidikan?
Setiap anda menginginkan bantuan pendidikan maka anda harus pintar berbahasa inggris dalam bentuk sertifikat toefl sekitar 500 poin dan palimg sedikit 460 poin.
Tak masalah kalau anda belajar di negara yang bahasa induknya Inggris atau negara lain yang mahasiswanya multinegara. Atau bahasa pengantar dalam belajar berbahasa inggris.
Indonesia tidak mewajibkan menggunakan bahasa inggris dalam bahasa pengantar pada setiap pertemuan belajar. Kurikulum pun tidak mengaktifkan bahasa inggris dalam kelas belajar.
Jika begitu, sudah saatnya institusi dan negara memberikan bantuan pendidikan baik s1, s2 dan s3. Kepada warganya, terlebih pendidikan tinggi bertujuan akan melahirkan intelektual yang menjadi tuan di rumah sendiri. Melahirkan teori dari negeri sendiri, bukan sering mengimport teori dari negara lain.
Cara membantu warga negara menjadi cerdas dengan memberikan beasiswa tanpa toefl atau sertifikat bahasa inggris, toh anda belajar di dalam negeri, kan?
Jangan biarkan bibit unggul tak menikmati pendidikan tinggi/pasca sarjana di negara kita sendiri, Indonesia. Bahasa inggris bukan simbol unggul dari warga negara. Jika bahasa inggris dijadikan simbol keunggulan warga negara Indonesia, maka wajibkan berbahasa inggris di kelas sejak sekolah dasar sampai sekolah menengah utamakan speaking, writing dan reading. Jika beljm berhasil maka janban luluskan siswa indonesia untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya.
Bagaimana pak menteri pendidikan? Bagaimana DPRI? Bagaimana penggiat /pemikir pendidikan?
Siapakah dia
Mengapa dia tak memberikan izin menumpangi kami menginap di mess iv. Kami heran karena masuk akal permintaan kami minta. Hari jam 4 pagi, kami minta nginap di mess iv itu sampai jam jadwal kuliah, jam 8 pagi.
Mas tono akhirnya tak mau memberikan izin, begitulah tegasnya beliau mempertahankan argumennya. Alasannya mes iv dipakai oleh mahasiswa lain. Mahasiswa itu pencinta alam, kalau tak salah singkat dia mengatakan MAPALA sudah mendaftar untuk satu hari mulai sore nanti.
Begitu petugas mess iv tegas dengan pilihannya, namun tak elok menurut kami, karena sudah sering kami menggunakan mess iv dan kami melakukan semua prosedur peminjaman mess iv untuk menginap. Lagi pjla seandainya betul MAPALA meminjam mess iv selama mereka belum masu ke mess iv itu, mestinya kami bisa menginap walau empat saja.
Kami meminta direktur pascasarjana, ibu itu sibuk mengurus beberapa dokumen yang sudah di jilid. Aku sudah tak mau berurusan dengan ibu direkturm karena segan sering berurusan dari mendaftar, ujian masuk, pendaftaran ulang terasa segan kalau berurusan terus. Kamu ajalah Man yg berurusan dengan ibu direktur. Itu yang ku kataka dengan temanku sejak 1999. Kami berteman sejak penerimaan mahasiswa s1 dulunya.
Bersambung
Mas tono akhirnya tak mau memberikan izin, begitulah tegasnya beliau mempertahankan argumennya. Alasannya mes iv dipakai oleh mahasiswa lain. Mahasiswa itu pencinta alam, kalau tak salah singkat dia mengatakan MAPALA sudah mendaftar untuk satu hari mulai sore nanti.
Begitu petugas mess iv tegas dengan pilihannya, namun tak elok menurut kami, karena sudah sering kami menggunakan mess iv dan kami melakukan semua prosedur peminjaman mess iv untuk menginap. Lagi pjla seandainya betul MAPALA meminjam mess iv selama mereka belum masu ke mess iv itu, mestinya kami bisa menginap walau empat saja.
Kami meminta direktur pascasarjana, ibu itu sibuk mengurus beberapa dokumen yang sudah di jilid. Aku sudah tak mau berurusan dengan ibu direkturm karena segan sering berurusan dari mendaftar, ujian masuk, pendaftaran ulang terasa segan kalau berurusan terus. Kamu ajalah Man yg berurusan dengan ibu direktur. Itu yang ku kataka dengan temanku sejak 1999. Kami berteman sejak penerimaan mahasiswa s1 dulunya.
Bersambung
Tuesday, October 4, 2016
nilai asli atau nilai keseluruhan selama tiga bulan
nilai mid semester seni budaya kelas 7 dan 8 akan di tampilkan di blog ini, namun karena hal dan lainnya, maka perlu dipertimbangkan nilai asli satu hari saat mid semester atau nilai selama 3 bulan proses belajar seni budaya?
tolong di jawab. mungkin jawabannya akan membantu.
Sementara sudah dapat nama terbaik dalam seni
Kelas 8. rahmatullaili, risna, grace.
Kelas 7. Devi
tolong di jawab. mungkin jawabannya akan membantu.
Sementara sudah dapat nama terbaik dalam seni
Kelas 8. rahmatullaili, risna, grace.
Kelas 7. Devi
Thursday, September 29, 2016
sandal di atas atap sekolah
mana sandalmu?
itu, ayah.. di atas atap.
siapa melakukan?
ini temanku, dia usil.
hari itu senin 26 sept 2016, jam 5 sore lewat 20 menit. aku terpaksa kerja mengeluarkan meja guru, meja siswa dan kursi siswa. aku minta bantuan kepada guru sekolah ngaji si ozat.
tiga peralatan tadi kami bawa mengarah ke sandal di atas atap. sekitar lima belas menit kerja yang tak perlu di kerjakan ini akhirnya selesai.
itu, ayah.. di atas atap.
siapa melakukan?
ini temanku, dia usil.
hari itu senin 26 sept 2016, jam 5 sore lewat 20 menit. aku terpaksa kerja mengeluarkan meja guru, meja siswa dan kursi siswa. aku minta bantuan kepada guru sekolah ngaji si ozat.
tiga peralatan tadi kami bawa mengarah ke sandal di atas atap. sekitar lima belas menit kerja yang tak perlu di kerjakan ini akhirnya selesai.
Sunday, September 25, 2016
cinta negeri lewat perjalanan ke sabang
Perjalanan Dumai ke Sabang (nol kilometer Indonesia
bagian Barat)
Tanggal empat belas Juni dua ribu enam belas
waktu itu setengah dua siang Waktu Indonesia Bagian Barat. Aku dijemput temanku
Salman Effendi dengan mobilnya Xenia 1000CC. sampai di rumah ku jalan Abdul
Rabkhan, aku memasukkan barang-barang bawaan ke Sabang propinsi Aceh.
Kumasukkan barang-barang ke bagasi xenia berwarna abu-abu.
Di dalam mobil ada Aku, Temanku, Istri ku,
istri temanku, seorang anak laki-laki teamanku berumur 6 tahun, dan anaknya
berumur 1 tahunan laki-laki. Sementara aku membawa anak pula satu laki-laki
berumur 8 tahun dan anak perempuanku berumur 4 tahun.
Kami berangkat dimulai dengan memberikan
kunci ke rumah temanku kembali lagi ke rumahnya. Dan kami berangkat dengan
bismillah semoga Allah melindungi perjalanan kami. Lupa memberikan kunci adalah
simbol kealpaan manusia yang semestinya jika berangkat meninggalkan rumah
semestinya tidak perlu kembali ke rumah. Semestinya dan sebaiknya namun itulah
manusia.
Kami sampai di bagan batu sekitar jam
setengah lima sore. Bagan batu sebagai kota perbatasan Propinsi Riau kota
kecamatan dari kabupaten Rokan Hilir yang ibu kotanya Bagan Siapiapi. Di Bagan
batu kami sholat di masjid Agung. Masjid ini punya ciri khas tempat wudu’ yang
curam kebawah. Untuk berwudu’ kami harus menurunkan langkah kaki sekitar lima
belas anak tangga kebawah. Di sekitar tempat wudu’ ada orang berjualan
perlengkapan sholat, buku Islami, tasbih dan minyak wangi. Setelah sholat
a’shar kami rehat sejenak sekitar lima belas menit. Selanjutnya kami
melanjutkan perjalanan.
Sebentar lagi hari akan menjelang malam,
maghrib di setengah jam sebelum rantau prapat. Kami berbuka puasa di sebuah
rumah makan diluarnya ada lesehan rumah makan ini dekat dengan masjid. Minum
sedikit dan makan kue kami sholat maghrib berjamaah. Perut pun lapar mengajak
kembali ke rumah makan tadi. Kami jadikan tempat memenuhi nafsu makan minum
kami yang sedari tadi dahaga.
Kami mengira habis satu jam menghabiskan
waktu di tempat melepaskan dahaga dan tempat makan diringi pula sebagai tempat
bermain anak-anak ku dan anak-anak teman ku. Setelah membayar makan kami
bergegas ke xenia, dan ternyata temanku bernama Salman Efendi memberikan kunci
mobilnya. Itu pertanda dia sudah lelah minta bergantian untuk mengemudi mobil.
Cahaya lampu mobil sudah terang itu tandanya
malam segera datang. Mobil ku bawa sekitar enam puluh sampai tujuh puluh
kilometer per jam. Agak laju dari pada temanku bawa mobil. Maklum aku ingin
segera cepat sampai ke kota berikutnya yaitu Rantau prapat. Ibu kota dari
kabupaten labuhan batu propinsi sumatera utara yang dulunya pernah jadi kota
Madya. Kini kembali menjadi kota kabupaten.
Kami sampai jam delapan malam lebih kurang di
Rantau Prapat, dan singgah di rumah saudara istri temanku, katanya itu rumah
kakak kandungnya. Suaminya orang disegani pemuda di kota itu. Kami minum teh
dan sedikit kue dan melanjutkan perjalanan. Terasa rindu antara kedua kakak
beradik ini teramat singkat karena kebutuhan perjalanan kami. Mestinya
kerinduan mereka setidaknya diisi dengan satu malam. Namun tak apa karena
kerinduan mereka baru berusia tiga bulan lalu tak bersua.
Hari hampir jam setengah dua belas malam, dari
jalan lintas sumatera kami belokkan Xenia ke kanan. Kami mendapatkan penginapan
di kota Kisaran ibukota kabupaten Batu bara propinsi Sumatera Utara. Harga per kamar Rp. 150.000 dengan fasilitas
ac,kamar mandi di dalam, tv dan bonus satu bed untuk anak-anak saya. Bagaimana
isi kamar teman saya Salman saya tak ingin pula tahu.
Tiba-tiba kami dibangunkan oleh petugas
hotel, ini menandakan waktu sahur telah tiba, waktu sahur itu artinya waktu
makan untuk persiapan menahan makan dan minum selama lebih kurang tiga belas
jam. Jika itu waktu di Indonesia, konon di lain negara ada yang lebih lama dari
itu.
Aku bangun dengan segera dan meminta nasi
goreng 4 untuk aku, keluargaku dan untuk keluarga temanku. Ternyata jawaban
petugas hotel kurang memuaskan, katanya hotel tidak menyediakan makan sahur.
Sila cari di sebelah hotel. Itu jawaban petugas. Aku telepon temanku untuk mencari makan dan
minum sahur di sebelah hotel bersama-sama. Setelah kami menemukannya ternyata
tidak ada yang kami inginkan. Kami terpaksa mencari lebih jauh lagi dari hotel.
Kami menemukannya sekitar dua ratus meter
dari hotel, kami pesan empat bungkus nasi goreng dan empat bungkus jus pokat
dapat dengan harga yang masih bersahabat sekitar tujuh puluh ribu rupiah. Kami
bergegas dan setelahnya kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju kota
Medan.
Hari saat ini habis subuh waktu kota Kisaran.
Kami isi bensin untuk Xenia seharga dua ratus ribu, selanjutnya kami pacu
dengan segera ke kota Medan melewati tol amplas sekitar sepuluh menit kami
sampai di ujung jalan tol dengan membayar uang pas seharga dua ribu lima ratus
rupiah.
Kami sudah sampai di kota Medan, ibu kota
propinsi sumatera utara. Kota dengan predikat no tiga di Indonesia setelah Jakarta
dan Surabaya. Atau kota paling ramai dan paling macet di pulau sumatera.
Keadaan sangat macet. Hampir tidak ada sela untuk bisa dilewati pejalan kaki
jika ingin menyeberang diantara mobil yang satu dengan mobil yang lainnya. Saat
itu jam sepuluh pagi.
Kendaraan melaju setelah melihat ujung kota
kearah kota Binjai, keadaan sudah tidak semacet tadi. Setelah binjai kami akan
segera tiba di kota Stabat. Sampai disana kami rehat di masjid agung Stabat
maklum anak-anak sudah mulai lelah dan gelisah di dalam mobil. Kami istirahat
dari jam sebelas sampai jam dua belas siang.
Perjalanan di lanjutkan menuju Aceh. Driver nya adalah temanku yang punya mobil. Tak
sampai setengah jam setelah perjalanan kami diberhentikan oleh polisi bernama A.R
Sem*****g rupanya dari tadi ia mengejar kami.
“Siang pak, mau kemana?” dia bertanya.
“mau ke Aceh.” Jawab Temanku.
“ada STNK dan SIM?”
Temanku melihatkan SIM dan STNK nya kepada
Polisi tersebut.
“bapak tau salahnya?’
“tak ada salah, saya pak,”
“bapak melanggar lampu merah.”
“mana ada saya langgar, pak saya berjalan
lampu hijau pak.”
“lampu hijau untuk pejalan kaki, pak silakan
ke pos di lampu merah pak.”
Sumpah
demi tuhan kami tak ada melanggar lampu merah. Kami berani minta buktinya.
Beginilah kerja polisi di sumatera utara. Sepanjang jalan dari menuju
perbatasan Riau sampai ke perbatasan Aceh, banyak sekali pos yang berkedok
pemeriksaan, namun ujung-ujungnya uang. Pengalaman pahit ini saya rasakan juga
dirasakan pula mobil dengan plat B***** sebuah mobil mini bus dengan nomor
polisi di luar sumatera.
Saat kami di proses di kantor pos Stabat,
oleh An**** yang ditemani Si****** maka
yang lainnya yaitu polisi yang memberhentikan kami tadi namanya A.R Sem******
tegak di depan pos dekat lampu merah disampingnya sepeda motor khusus untuk
pengejaran. Apa yang salah dari kerja mereka? Sepertinya sengaja mencari
kesalahan pengemudi. Pada saat lampu hijau, pengemudi jalan. Namun setengah
badan mobil sudah melewati lampu hijau, ternyata sudah nyala lampu merah.
Moment setengah badan mobil saat lampu merah ini di gunakan untuk mencari
kesalahan si mobil bernomor polisi B.
Jika di runut apa kesalahan kami, tentu tidak
ada. Kami berada paling depan di traffic
light. Sementara ada tiga lagi mobil di belakang kami. Mengapa mobil kami
yang dari riau di berhentikan. Itu pun
setelah lebih tiga kilo meter dari traffic
Light Stabat kami di berhentikan.
Jika dilaporkan pada Propam Polri maka petugas tersebut dikenakan sanksi atas
kerjanya dengan sengaja mencari-cari kesalahan masyarakat. Itu melawan kode
etik polri. Semoga kapolri baru dapat membenahi polisi di sumatera utara.
Seperti kasus yang kami alami yaitu mencari-cari kesalahan pengemudi.
Akhir dari cerita di pos polisi Stabat, STNK
teman saya tetap ditahan. Pergi ke Aceh dengan membawa surat tilang polisi yang
suka mencari kesalahan pengemudi. Kasihan nasib anda polisi jika suka
mencari-cari kesalahan masyarakat demi sesuatu.
Bagaimana dengan STNK teman saya? Nanti saya
ceritakan setelah pulang dari Sabang, pulau Weh-Aceh.
Habis juga satu jam urusan kami dengan
polisi. Kami melanjutkan perjalanan dengan pikiran muak pada polisi seperti
itu. Namun dengan pikiran lain bahwa itulah kerja polisi memeriksa, menertibkan
hukum itu dasarnya.
Setelah berurusan agak lama memakan waktu,
mobil dikemudikan ke arah perbatasan aceh tepat di suatu masjid kuala Simpang. di kabupaten aceh tamiang kalau
tak salah, kami rehat dan sholat ashar, kami kira kami terlalu lama terlambat
sholat, ternyata masi sempat jadi makmum yang terlambat. Itu diperkirakan
perbedaan waktu sholat di kota Dumai dengan Aceh tamiang sekitar dua puluh
menit lebih lambat tempat yang kami kunjungi ini.
Setelah sholat ashar kami bergegas dan sampai
di daerah Pidi, Xenia minum lagi seharga dua ratus ribu rupiah. Kami rehat pula
sejenak mengurus anak masing-masing. di pengisian bensin sempat berbincang
sejenak dengan perempuan aceh yang manis. Bercerita tentang jam berbuka puasa,
dia mengatakan bahwa berbuka jam enam yang jarumnya dekat angka sebelas. Itu
kami tafsirkan sebagai jam enam lewat lima puluh lima waktu Indonesia bagian
barat.
Sepanjang daerah ini kami menemukan pedagang
menjajakan dagangannya tebu atau kelapa muda untuk berbuka puasa. Begitu
pemandangan di tepi jalan lintas aceh. Di kota nya betul di Pidi ramai sekali
orang berbelanja untuk berbuka. Namun karena waktu ada sekitar lebih setengah
jam lagi menuju berbuka kami putuskan untuk berbuka di mesjid tepi jalan raya.
Kami membeli es tebu, harganya dua ribu lima ratus rupiah per bungkus. Untuk
menemani minuman ini, ditambah pula dengan serba kue dan gorengan.
Sampai di mesjid. Pas pula waktunya berbuka.
Kami minum es tebu dan makan kue yang kami beli tadi tentu tidak lupa membaca
doa. Allahumma laka sumtu wa bika amantu wa rizkika aftartu birah mati ka ya ar
hamarraahimiin. Allahumma bariklana fii ma razaktanaa wakinaa azaa bannaar.
Di ujung plataran masjid orang-orang keluar
dari pondok setelah kemudian kami mengetahui itu namanya Masala. Pondok tempat
makan dan minum berbuka puasa dan mungkin urusan lainnya. Salah seorang dari
mereka masuk masjid duluan untuk mengumandangkan azan. Kami yang berkumpul di
teras masjid bersama dua keluarga tentunya masih asik menikmati makan dan minum
berbuka puasa.
Azan usai. Kami sholat berjemaah, setelah
sholat berjemaah ada yang beda bacaannya: zikirnya setelah berdoa ada bacaan
sholawat sekitar beberapa menit, masih dalam keadaan duduk. Kami merasa ada
yang beda di serambi mekah ini. Tentu pengalaman baru.
Abis dari masjid kami mencari rumah makan.
Rupanya tak jauh dari masjid ada pula masjid raya Untuk menemani minuman ini, ditambah pula
dengan serba kue dan gorengan.
Sampai di mesjid. Pas pula waktunya berbuka.
Kami minum es tebu dan makan kue yang kami beli tadi tentu tidak lupa membaca
doa. Allahumma laka sumtu wa bika amantu wa rizkika aftartu birah mati ka ya ar
hamarraahimiin. Allahumma bariklana fii ma razaktanaa wakinaa azaa bannaar.
Di ujung plataran masjid orang-orang keluar
dari pondok setelah kemudian kami mengetahui itu namanya Masala. Pondok tempat
makan dan minum berbuka puasa dan mungkin urusan lainnya. Salah seorang dari
mereka masuk masjid duluan untuk mengumandangkan azan. Kami yang berkumpul di
teras masjid bersama dua keluarga tentunya masih asik menikmati makan dan minum
berbuka puasa.
Azan usai. Kami sholat maghrib berjemaah,
setelah sholat berjemaah ada yang beda bacaannya: zikirnya setelah berdoa ada
bacaan sholawat sekitar beberapa menit, masih dalam keadaan duduk. Kami merasa
ada yang beda di serambi mekah ini. Tentu pengalaman baru.
Abis dari masjid kami mencari rumah makan.
Rupanya tak jauh dari masjid ada pula masjid raya. Xenia kami hentikan untuk
makan nasi bersama. Ciri khas makan di sini adalah terasa sedikit asin dengan
tanpa santan seperti di minangkabau atau di sumatera barat.
Perjalanan kami lanjutkan menuju tujuan
berikutnya. Hari sekitar jam delapan malam hari rabu tanggal lima belas juni
dua ribu enam belas. Sepanjang jalan kami melihat rumah penduduk di tepi jalan.
Ini artinya kami tak bisa melaju dengan kencang seperti di perbatasan riau dan
sumut atau di labuhan batu.
Banyak nama daerah kami lewati, dari aceh
tamiang, aceh timur, Louksomawe sampai diperhentian pengisian bensin di Aceh Besar.
Selama di aceh kami tak menemukan polisi yang suka cari kesalahan masyarakat.
Di aceh AMAN dan NYAMAN. Itu perlu di catat. Kami bangga padamu Aceh.
Di perhentian pengisian bensin Aceh Besar
kami rehat minum hangat dan makan ringan. Sholat Isya dan meluruskan badan.
Waktu saat itu sekitar jam nol nol. Hari sudah kamis dini hari. Xenia kami gas
kembali menuju destinasi berikutnya. Kami melewati bukit-bukit seperti di jalan
sumatera barat dari rantau ke kelok sembilan. Namun tak selama itu. Hanya sekitar
setengah jam. Setelah itu jalan lurus yang penuh dengan rumah penduduk.
Jam setengah lima pagi kamis tanggal enam
belas juni dua ribu enam belas. Kami makan sahur di pinggir kota Banda Aceh.
Menu yang tersedia yang kami makan antaralain martabak telur, nasi goreng, mie
goreng dan nasi sambal ikan dan ayam. Makan di pinggiran kota Banda Aceh
lumayan merogoh kocek. Seharga 70 ribu. Imsyak pun tiba sekitar jam empat lima puluh satu kami pacu kembali Xenia
ke kota Banda Aceh.
Sampai di sana kami telat untuk sholat subuh.
Mencari penginapan di sekitar Masjid Raya. Kami dapat home stay dengan harga
seratus lima puluh ribu untuk kamar ber Ac tanpa tv, kamar mandi dalam.
Sementara kamar yang satunya lagi seharga seratus dua puluh ribu rupiah, tanpa
tv, kipas angin dan kamar mandi di luar. Hanya ada kamar itu di home stay yang
berada tepat di depan hotel 61 kota Banda Aceh. Kami istirahat jam enam pagi
dan harus bangun jam tujuh untuk melanjutkan perjalanan ke kota Sabang kota
paling barat Indonesia.
Setir mobil kami arahkan ke pelabuhan dengan
gps dan kadang kami bertanya dengan warga akhirnya sampai ke pelabuhan. kami
sampai lebih dari waktu yang ditentukan sekitar tiga puluh menit dari dua puluh
menit yang di infokan oleh petugas Home Stay. Masuk di pelabuhan ini membayar
uang parkir kendaraan di pos masuk. Bertanya sejenak kepada petugas dan
mendapatkan info di mana posisi mobil. Sampai di parkiran. Sudah sampai – info
terbarunya adalah mobil tidak bisa masuk ke kapal ferry karena penuh. Jadi,
kami meninggalkan Xenia di pelabuhan.
Di loket sudah terjadi antrean panjang
seperti ular. Padahal petugas belum ada. Satu jam mengantre berdiri tegak. Satu
tiket seharga delapan puluh lima ribu rupiah. Kami menunggu keberangkatan
sekitar setengah jam. Alhasil berangkat jam setengah sepuluh pagi.
Perjalanan laut dari Pelabuhan Banda Aceh ke Pelabuhan Sabang Sekitar empat puluh menit. Hamparan laut hijau, bening dan terkadang biru menambah kesenang pikiran di hati. Selalu menyenangkan selama di perjalanan laut. Karena fasilitas kapal ferry ada tv, ac dan toilet. Menyenangkan perjalanan di laut meski terkadang terpikir seandainyai ada ombak besar bagaimana? Seandainya kapal tenggelam bagaimana? Namun saya serahkan kepada Tuhan sang pencipta pemilik nyama.
Sampai di pelabuhan Sabang kami langsung
disambut para supir mobil travel dengan pertanyaan mau kemana? Dan macam-macam.
Akhirnya jatuhlah pilihan kami pada supir dengan mobil kijang super seharga
empat ratus ribu rupiah. Ternyata cerita-cerita ia tinggal tak jauh dari
pelabuhan ini dan penduduk lama.
Memulai kota sabang diawali dengan
pendakian-pendakian yang tajam. Tempat foto pertama adalah pada tulisan I love
Sabang dengan tulisan sebesar badan manusia. Sehingga bisa foto bersama dua
keluarga dari kami. Kijang super diparkirkan di sekitar ikon Sabang ini dan
kami jadikan supir jadi photographer kami.
Sabang berada di pulau weh, kami
mengelilinginya cukup satu jam sudah dapat melihat tepian pulau weh dengan
melihat tepian pantai yang indah. Melihat nol kilometer Indonesia bagian barat.
Nol kilometer di Sabang ada dua. Yang satu tugu garuda kabarnya ada di
pemerintahan Soeharto dan yang satu lagi tiga kilometer lagi dari tugu garuda
yang bertuliskan Nol Kilometer sedangkan tugu garuda disebut tugu kembar –
satunya lagi di Merauke.
Labels:
aceh,
gedung sunami,
nol kilo meter,
sabang sebelum merauke,
tugu garuda
Subscribe to:
Posts (Atom)
